Category Archives: Serpihan Busur Hujan

[Another Newcomer’s Note]: End of The Daydream

Standar

The ones that will last longer and never turn away until the last final day of here life :

Sky and Stars.

Will always be vast

hopefully will always be blue

Will always shine

Though not seen

And the lifetime best friend,

Never ever go away from that.

Has just waking up in a quite long daydreaming.

It’s only a daydream.

Waking up while awake.

A Lifetime Best Friend

Standar

“Ja, Teori berkata: Kita adalah apa yang kita pikirkan. Kemudian berpengaruh kepada perasaan. Lalu kepada tindakan. Pikiran, hati dan tindakan.

Jika kita ingin bahagia, positiflah dalam berpikir. Hati akan terasa luas, bertindak pun menjadi semangat.

Lain halnya jika kita memutuskan untuk berada di kutub negatif saat keadaan sedang tak mengenakkan, perasaanpun akan terasa sempit, tubuh akan bergerak gontai.

Tetapi, namanya juga manusia. Terkadang, bagi saya, untuk tetap memilih bergeser ke kutub positif di saat sekitar memberikan ion-ion negative, cukup sulit.

Terkadang pikiran ini memutuskan untuk berada di garis abu-abu saja. Berhenti sejenak. Menikmati keabu-abuan. Namun, terlalu lama berada di garis abu-abu, lama-kelamaan, energy positif yang tersisa bisa habis juga. Lama-lama, ion –ion positif yang tadinya berwarna putih bersinar, berubah menjadi keabu-abuan lalu menjadi abu-abu yang sebenarnya.

Jiwa ini rasanya seperti di-vacum oleh Dementor *lebay ya! Dasar tukang ngayal!

Kalau kata John Mayer, ‘….my fuse to dry…’ yes. Yes. My fuse is running to dry.

Kalau sudah abu-abu begini, sama buku aja musuhan. Bawaannya malas………………………………..

Inginnya cuma menonton sesuatu yang bisa membuat saya tertawa. Sebuah pelarian tepatnya.

Tidak mau melihat dunia karena dunia begitu melelahkan. Padahal, usia saya masih kepala dua, kok udah ngerasa lelah begitu ya??? Ah. Jiwa ini masih perlu digembleng lebih keras lagi rupanya.

Jika sudah anteng di garis abu-abu, lagu-lagu semangat tak lagi mempan. Mereka terdengar seperti nyanyian saja. Hanya nyanyian.

Ingin dirinya beralih ke kutub positif. Berada di garis abu-abu dalam waktu yang cukup lama membuat jiwa kering. Bagaimana tidak? Ibadah cuma seadanya saja.

Ibaratnya kalau lagi musim kering, nyiram tanamannya jadi seadanya. Airnya ya yang ada saja. Tanpa mau berusaha untuk mencari air lagi supaya bisa memberikan volume air yang cukup untuk tanaman itu.

Jadi lah saya memutuskan untuk menyeret diri ke kutub utara, eh! Kutub positif. I’m dragging!

Even if it’s dragging, I do it! Yang penting jangan sampai mati kering di jiwa di abu-abu yang pada akhirnya nanti jadi abu-abu pekat bahkan hitam!”

“Hey….je…bukan lagu sih yang mesti lu dengerin….Al-Qur’an noh….”

“Iya Ja…ini juga saya mencoba untuk kembali padanya Ja….I do still remember you say. Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya sahabat seumur hidup;  dunia saat ini dan di dunia abadi nanti. Tapi Ja….cukup berat untuk kembali…”

“Ngga apa-apa  Je…yang penting lu udah bergerak. Walaupun masih nyeret kaki. Bentar lagi juga jalan trus lari deh…”

“Aamiin Ja…terima kasih ya Ja 🙂 Bagja juga, sahabat baik seumur hidup ya. Tapi ya masih kalah sama Al-Qur’an”, seringai Kaze.

“Iye iye…. Gw juga dulu gitu Je. Eh, tapi yang ngga ampe nyeret kaki sih. Dulu, tiba-tiba aja gw balik kanan, pasca kesentil ama omongan guru gw Je. Belum mungkin ya. Setiap manusia sepertinya akan menemui masa tersulitnya. Ntar kalo gw gitu, ingetin gw ya Je!”, pinta Bagja sembari menepuk keras bahu Kaze dan berlalu ke luar kamar.

Kaze?

“Sakit Bagjaaaaaaaaaaaa…….”

Bukan. bukan. Kaze tidak begitu 😀

Laki-laki berwajah dan berbadan tirus ini, yang tubuhnya baru saja tergoncang lumayan hebat dengan satu tepukan dahsyat dari Bagja yang berbadan tiga kali lebih tebal, reflek menoleh ke arah dan cukup dengan mendaratkan satu lirikan tajam ke arah Bagja.

Spontan, tubuh Bagja tersentak. Aliran listrik baru saja menembak tubuh gempalnya dari arah belakang.

“Sori Je. Sengaja.haha…” sembari mengacungkan dua jari ‘peace’ andalannya dan menghilang di depan pintu.

–**–

“Bugg..”

“Hey!!!”

“Sori Dy”

“Sori… sori….”

“Dy!”

“Apa?”

“Lu jangan bikin List Uplifting song aja donk kalo gitu…ga cukup dengan itu aja Dy untuk membangunkan macan atau beruang yang pingsan atau apalah…”

“Jadi?”

“Tambahin Uplifting Ayat-ayat Al-Qur’an juga”

“Ide yang sangat bagus Bagja! Ok!”

“Hehe…”

“Ya udah, sono”

“Sono?”

“Sono balik ke dunia kamu. Tokoh dilarang berkeliaran lama-lama di sini. nanti ga bisa balik lagi, kapok.”

“Iye..iye…jangan galak-galak napa…oya, lu juga Dy. Sono.”

“???”

“Sono mulai bikin list Uplifting Ayat…”

“Iya iya. Dicicil dulu tapi..bantu ya”

“Beres boss”

Kalian, bantu juga ya? 😉

[Nanti]: The Newcomers, The Outsiders

Standar
pasar-malam-02

photo by : novianwahyu

Pasar malam hari ini ramai sekali. Maklum saja, hari ini adalah hari terakhir dan juga sekaligus puncak dari pasar malam yang telah berlangsung selama tiga minggu. Di hari terakhir ini biasanya hampir semua barang-barang yang dijual di sana diskon besar-besaran dan semua harga tiket permainanpun begitu. Walaupun barang-barangnya ya barang-barang sisa, namun tetap saja banyak peminatnya.

Malam terakhir pasar malam ini turut diramaikan pula dengan hadirnya bintang yang bertaburan di langit hitam. Indah kawan! Bayangkan saja, Lintang serasa berada di dunia sihirnya Harry Potter; Hogsmeade. Sadar akan hal itu mendadak semuanya berubah menjadi serba sihir; orang-orang berjubah dengan topi sihir mereka hilir mudik membawa belanjaan masing-masing yang tentunya juga barang-barang ajaib seperti wajan ajaib yang dengan ringannya ditenteng oleh seorang ibu separuh baya dengan banyak gambar-gambar tombol-tombol touch di sekelilingnya seperti yang ada di smartphone, buku resep kue Queen Wizard yang mengeluarkan bau manis cream dan coklat, seorang pemuda yang berjalan berkeliling menjajakan tongkat sihir anti patah dan anti rayap, tongkat kembang api yang tak akan pernah kehabisan bunga apinya, hanya saja tidak dapat kau mainkan di siang hari hanya khusus di malam hari, dan lain-lain.

Kemudian Lintang beralih ke benda yang berada di genggaman tangannya. Wajahnya berseri seketika; sebuah miniature bola bumi lengkap dengan isinya awan, air, tanah dan makhluk hidupnya, komplit! Lintang berjalan menepi menuju pinggiran trotoar sambil masih dengan seksama memperhatikan isi bola bumi mininya. Ia lelah berkeliling sementara Ibunya masih asyik memilih-milih buku resep Queen Wizard yang semuanya mengeluarkan aroma lezat dan gambar nyata yang sangat menggiurkan. Sejenak Lintang ingin duduk di tepian lapangan saja menunggu ibu. Ia menarik-narik jubah Ibu saat Ibu menoleh kepadanya Lintang menunjuk kea rah tepian lapangan yang sepi. Tangan menunjuk itu berkata: “Ibu sayang, lintang duduk di sana saja ya menunggu Ibu”. Lalu Ibu mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Bahasa isyarat memang efektif di keramaian. Kalau kau teriak, percuma saja! 😀

Yang Lintang lihat selain bola buminya adalah kaki-kaki orang-orang yang berlalu lalang. Lintang tahu ke arah mana yang ia tuju sehingga ia hanya perlu menghindari kaki-kaki tersebut agar tidak tertabrak dengan orang. Namun tiba-tiba saja,

“BRAK…!”

Seseorang menabrak Lintang dengan kencang dan tentu saja diikuti dengan daya tumbuk yang kuat. Bola dunia di genggaman Lintang terlepas, jatuh ke bawah dan menggelinding ke arah tepian lapangan dan berhenti menghempas tembok batas lapangan. Seluruh isinya spontan berserakan; kuda, burung, monyet bingung mengejar pisangnya yang jatuh, air laut bertumpah ruah. Lintang kaget. Lintang kesal. Tapi lintang adalah anak yang gesit. Yang pertama dilihatnya adalah kemana bola dunianya jatuh dan menggelinding kemudian pandangannya beralih cepat ke arah orang yang menabraknya; seorang anak laki- laki memeluk tas berlari kencang lalu melompati tembok pembatas lapangan dan hilang di sana.

Lalu pandangan Lintang beralih lagi ke bola buminya. Seluruh isinya yang kocar-kacir kini semuanya bergegas kembali ke rumah masing-masing di bumi mini itu. Lintang tersenyum. Untung saja ia beli bola dunia ajaib ini. Anti pecah dan anti rusak! Keren bukan!

Lintang memungut bola buminya dan kemudian duduk di tembok pembatas yang hanya setinggi pinggangnya itu. Memandang sebentar ke arah ibu yang ternyata masih di sana, hanya bergeser beberapa sentimenter—yang kini ada di bagian peralatan masak sihir mutakhir—kemudian teralihkan oleh derap beberapa kaki menuju arah lintang. Satu dua di antaranya berlari sambil berteriak,

“COPEEEEEET……….!”

Kalau tabrakan tadi belum mampu mebuyarkan khayalan Lintang akan dunia sihirnya, tapi teriakan copet itu membuat dunia sihir khayalannya runtuh seketika. Bola bumi mini ajaibnya kembali menjadi bola dunia biasa tapi tetap anti pecah—karena memang terbuat dari bahan bola, sebuah bola yang bergambarkan bumi 😀 —dan orang-orang di sekilingnya kembali terlihat dengan semarak baju khas penggunjung pasar malam.

Sekelompok orang yang mengejar copet tersebut sama sekali tidak menaruh curiga ke arah Lintang bahkan sama sekali tidak menghiraukan. Mereka memutuskan untuk berpencar. Lintang dengan wajah super lurusnya tertegun melihat semangat emosi yang membara dari orang-orang tersebut dan kemudian menoleh ke belakang ke arah bawah tembok di sisi belakang.

Pandangan Lintang disambut dengan seringai nakal lalu memberikan isyarat agar Lintang diam saja.

“WAAAA….KAU COPETNYA YAAA!”

“SSSSTTT…..!”

“waaa…kau copetnya yaaa…”lintang ganti berbisik.

Anak laki-laki itu kembali menyeringai. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Aman. Lalu ia membuka jaket yang ia kenakan membalikkan sisinya—yang ternyata berbeda warna dengan warna bagian luar—memakainya kembali dan memutar topi yang terbalik menjadi benar, menurunkan topi agar wajahnya sedikit tertutup. Kemudian dengan tenangnya beranjak dari tempatnya meringkuk, melompati tembok dan duduk di samping Lintang.

Menghela nafas dalam-dalam kemudian melepasnya lega.

“Terima kasih ya”

“Untuk apa?”

“Untuk ga ngasih tau mereka kalau gw ngumpet di sini”

“Oo…siapa bilang. Aku bilang ke mereka cOOPP..”

Sigap ia menyergap mulut Lintang dengan tangannya.

“Jangan….kasian gw kalau ketangkep. Tega lu ntar klo liat gw babak belur. Mereka bapak-bapak om-om lho. Nah gw? Masih bocah-bocah kaya elu. Apa kata emak gw nanti klo liat anaknya babak belur?”

“lah itu, kenapa nyopet?”

“yaelah elu, eh siapa nama lu?”

“Lintang, kamu?”

“Tuh”

“Kok tuh, nama kamu ‘Tuh’?”

“Hehe…bukan…namanya tuh…”jawabnya sambil menunjuk bola bumi di tangan Lintang.

“O. Bumi?”

“Iyeee…hehe…”

“Kenapa nyopet?” Tanya Lintang lagi.

“Emak gw sakit Tang. Jadi gw perlu duit untuk beli obat buat emak.”

“Tang..tang…Lin tau!”

“O. maaf…”

“Wuih, tukang copet bisa juga bilang maaf?”

“Ya iyalah…masa ya iya dong…hihi…ga.ga…maksud gw copet kan juga manusia…hehe…”

“Gerah gw lari-lari” Bumi melepas topinya, melonggarkan kerah jaketnya. Gulungan rambut panjang jatuh tergerai dari balik topinya. Ikal dan berwarna pirang. Lalu menggunakan topi nya untuk mengipasi dirinya yang masih kegerahan—gimana engga? Sprint, pake jaket.hihi.

“HAAAAH….!!! Kamu cewek ya?????”

“Hehe…iya…”

“Kok nyopeeet…?????”

“Lah. Kan udah gw bilang tadi kenapa…”

“Iya tapi kenapa pake nyamar segala…”

“Ya gw ga mau aja merusak image anak perempuan menjadi buruk. Yang biasanya nakal kan anak laki-laki.hihi…”

—-000—-

Lintang diajak berkunjung melihat rumah Bumi. Diantara wanita-wanita yang berkumpul, Bumi menunjuk salah satunya,

“Nah, itu emak gw Tang…”

“Lin!”

“Eh, iya, Lin…itu…emak gw…” nyengir.

“Bumi bohong ya?! Katanya ibunya sakit….itu sehat….”

“Sakit tau….”

“ih! Ga boleh ngomong gitu tau. Nanti ibunya Bumi sakit beneran…”

“Emak gw emang sakit…tapi emang ga terlalu diliatin aja sama die…”

“Beliau.” Koreksi Lintang.

“Iye, ga diliatin aja gw ampe nyopet, apalagi kalo die eh! beliau terlihat benar-benar sakit. Yang ada gw ampe sanggup ngerampok kali ya”

“Hush! jangan asal ngomong kamu…”

“Ngga papa kan Tang kalopun gw ngerampok. Ntar gw bakal milih-milih kok siapa yang bakal gw rampok. Kaya Robin Hood.hehe…”

“Hush!”

“Iye iye…ngga kok Tang. Becanda gw. Ngga mungkinlah gw ngerampok. Sekarang. Ntr klo gw bener-bener udah jago baru deh.”

Lintang? cuma bisa mendelik tajam ke arah Bumi. Dan Bumi pun akhirnya mengatupkan bibirkan rapat-rapat dan berlagak memasang resleting pada bibirnya.

—digantung ampe di sini dulu ya :p

Catatan Qnan: Langit

Standar

Langit itu luas. Sangat luas.

Walaupun di luar sana ada semesta,

bagi manusia, langitlah yang ada dan luas.

Biru menghampar di atas sana.

Langit luas hadir untuk siapa saja.

Langit luas ada menaungi siapa saja.

Di belahan bumi manapun.

Melihatnya, siapapun bisa.

Tanpa penopang, langit menaungi

Langit sungguh bukan atap perisai.

Hanya sekumpulan udara sejenis.

Dalam satu misi

Satu kesatuan

Dengan kelebihannya masing-masing

berkelompok,

bersinergi,

menempati posisi masing-masing

Menjadi kuat dan luas

melindungi bumi dari benda-benda lain di luar angkasa sana.

Kesatuan biru itu bernama langit.

Jika merasa lemah, lihat saja langit.

Tak maukah menjadi seperti langit?

Langit hanya sekumpulan udara,

tetapi membentang kokoh di atas sana.

menaungi dan menjaga bumi

dan kita.

Jika hati terasa sempit, pandang saja langit.

Tak maukah menjadi seperti langit?

Luas dan berwarna biru.

Cerah dan tegas.

Terkadang lembut,

terkadang kelam,

Tanpa pernah lupa untuk selalu kembali biru.

Pandang langit baik-baik,

tanya pada diri,

“langit luas, kenapa aku tidak?

aku dan langit  ciptaan Tuhan.”

Pandang langit, lalu senyum.

Katakan, “Tuhan, jadikan aku seperti langit”.

Langit hadir untuk siapa saja, tanpa memilih.

Manusia atau kumbang kecil.

Pohon besar atau jamur mungil di celah pohon.

Langit. Lembut tetapi Kuat.

Hanya udara tetapi terlihat kokoh.

Dan benar-benar menjadi kokoh dan kuat

Hingga bisa melindungi Bumi.

Tetapi jangan lupa,

langit juga butuh dijaga.

Oleh kita.

Ya, kita, penghuni bumi.

Agar ia tetap kuat di atas sana.

Begitu juga dengan hati,

lembut tetapi bisa juga sekaligus kuat.

Harus tetap dijaga agar tetap seperti itu.

Hati dan Langit.

Salam hangat dari hati-hati di Bumi untuk Langit.

Mereka [1]

Standar

Perhaps the greatest social service that can be rendered by anybody to the country and to mankind is to bring up a family. -G. Bernard Shaw-

Perhaps sometimes we say it’s mere family. But family, it can bear a great even the greatest power to give positive contribution to mankind. Family is not just about blood-related and it can be anywhere we are, in whatever we do. Not always blood-related, it can be built by heart-related. It can give comfort for great powers to stay and grow.

“Nan, Kaje lagi kumur-kumur apaan sih?” komen Bagja lempeng.

“Auk, habis ketelen mouthwash kali” jawab Qnan (yang juga) lempeng.

sedangkan Kaze? manggut-manggut sendiri, menuliskan sesuatu di halaman buku yang sedang ia baca, lalu kembali diam. Kaze dan buku. Kalau cuma Qnan sama Bagja, ga akan digubris. Kalaupun plus Bumi plus Lintang, mereka berempat ga akan dianggep! kecuali kalau ada Om Guntur yang tiba-tiba muncul,…….