Category Archives: Notes

Sea and Spirit

Standar

Hai! Long time no see ya.

Tiga bulan terakhir kerjaan di kantor melonjak sangat amat drastis hingga lumayan sering pulang malam *ngelap jidat. Di saat-saat lonjakan itu, ada yang nyentil-nyentil di kepala minta ditulisi, tapi malangnya sentilan-sentilan itu kalah dengan slogan yang lebih kuat “Hei! Kerja itu prioritas utama! U are paid to work not to write some other things beside works!” Kadang cuma nulis draft dikit langsung ditutup karena teriakan gaib kembali terdengar, “Kerja woi kerjaaa…”

Anehnya, sentilan-sentilan untuk nulis itu sering muncul pas lagi kerja. Sepulang dari kerja, kalau sudah di kosan, keinginan mau ngelanjutin yang mencuat-cuat di kantor tadi sudah menguap. Kadang masih bisa saya lanjutin di kosan, tetapi amat sangat jarang terjadi.haha…

“Capek ah, mau nyante aja” dan sering berakhir dengan menonton saja. Padahal kalau mau nulis ya nulis aja ya…mau capek mau ngga.

Well well. Here we go. What to write? *ngelirik ke atas, nengok judul

Sea and Spirit. How it can be sea and spirit?

Here it goes.

Berkaitan dengan lonjakan kerjaan yang maha dahsyat yang pernah terjadi seumur-umur saya kerja di sini. Saking asiknya main sama kerjaan saya sampai lupa melihat teman baik di atas sana. Nyadarnya pas pulang ke rumah, pergi beli oleh-oleh sama Bapak, lewat jalan tepi pantai, whoaa… so blue! and hey! long time no see, sea! and hey! long time no see, sky…

Let’s take some pictures of you and sea too.

seashore 4

seashore 1

Akhirnya, dapet jepretan seger setelah sekian lama vacuum ga jeprat jepret.

Works been rocking since the beginning of Ramadhan. It’s rocking the first night of Ramadhan. Atasan saya, atasannya atasan saya, saya, dan tim HRD komplit masih berkutat dengan kertas-kertas dan angka hingga larut malam, ampe nyaris sahur di kantor—untungnya tidak. Yang sedihnya, ibadah jadi tidak maksimal. Fisik terkuras habis. Sabtu Minggu yang tadinya diandalkan untuk ngebut ketinggalan-ketinggalan target Ramadhan, yang efektif terpakai cuma satu kali. Selebihnya, berakhir pekan di kantor.

Rekan kerja saya yang di HRD ampe nyaris mirip mumi idup mukanya, pucet dan bermata panda—hanya matanya. Secara fisik dia tidak seperti panda karena dia bukan tipe orang yang tukang makan dan berbadan tambun. Nyanyinya sama ampe di hari terakhir kerja sebelum libur lebaran: “Kapan ya bisa libur…” lagu itu ada karena dia belum pernah libur, hampir satu bulan lebih ngantor terus bahkan di hari Sabtu dan Minggu.

Dan saya cuma bisa menghiburnya dengan lagu begini:

“Sabar bos…kan ntar kantongnya tebel…”

Tahan sebentar lagi…ntar bakal libur juga and enjoy the sweet treasure of the extra (ordinary) works. *ayo kedip-kedip mata plus pake tanda Rp di mata.

Bahkan saat mau mudikpun, masih mesti ikutan berjibaku lagi di kantor ampe telat pulang dan ga sempet mandi pas mau berangkat mudik.  Tapi untungnya para penumpang travel tidak ada yang ampe jatuh pingsan. Semua tampak baik-baik saja ampe di kota tujuan.

“This is the life…

Hold on tight…”

Kerja. Ritme lagunya nano-nano. Kadang selow…kadang nge-beat nggak karuan bikin sesek napas plus jantungan—kalo kata temen saya; “pipis aja nggak sempet!” dan benar adanya. Menyelesaikan pekerjaan bisa mengalahkan kebutuhan tubuh untuk buang air kecil.ckckck…pas sempet, toiletnya dipake, mau muter ke toilet yang atu lagi, males ke sananya, rada jauh. OK, ngelanjutin kerjaan dulu aja bentar, dan kemudian disusul dengan kerjaan-kerjaan yang ajaibnya berdatangan dan deadline pengerjaannya “S-E-K-A-R-A-N-G”

The tension is high, the faces are folded, the foreheads are wrinkled, the hearts are tired. Oxygen please! Di saat-saat seperti itu untung saja ada aja yang bisa bikin ketawa atau setidaknya bikin tersenyum—walaupun terkadang harus sedikit memaksa dibalik rayuan pulau kelapa.wkwkwk..the one who fortunately got a few seconds to breath will be the culprit to make the other(s) laugh or at least smile, sehingga tensinya lumayan bisa turun dikit.

The great thing is that we still can laugh in both kind of extremely different rhythm. A happy laugh or A silly happy laugh. I keep it in my mind: saya kerja, saya dibayar, so just do as best as I can, be grateful for the work I have. Di saat masih ada yang susah dapet kerja, untuk saya yang punya pekerjaan, ya tugas saya cuma tinggal bekerja dengan baik.

Kembali ke laut. Yess, sea…long time no sea.

There I can see Sea and Spirit, yang sempat terlupakan. Spirit on working, eh?

Satu kali, dua kali, tiga kali, beberapa kali, ingin mengangkat tangan dan berkata: “nyerah dah, angkat tangan…”

Tetapi, tidak tidak tidak. Hang on…just a little bit longer..hang on hang on. Masak kalah ama hanger….(???)

“Gonna follow my own lead, yeah!
Kick back and feel the breeze!
Nothing but the blue sky!
As far as I can see…. “–This Is The Life, Miley Cyrus–

“Might need to wing it
Still gonna bring it
Not gonna sink low
I’m going swimming
Swing for the fences
Sky’s not the limit today
Yeah….

So far so great, get with it
At least that’s how I see it
Having a dream’s just the beginning” –So Far So Great, Demi Lovato–

and always just a beginning… 🙂

Catatan Kecil 002.040313

Standar

Pernah tidak merasa bahwa kita tidak cukup sabar untuk mengetahui ending suatu cerita? Seperti saat kita menonton drama atau film atau membaca novel. Sampai larut malam atau bahkan dini hari. Mengacuhkan kegiatan rutin yang baik untuk kesehatan. Terkadang tanpa kita sadari, kita juga begitu dalam hidup.

Begitu bagaimana?

“Begitu” dalam artian “ngotot” ingin sekali segera mendapatkan memperoleh menyelesaikan sesuatu yang masih dalam proses. Ngotot itu baik, biar semangat. Tetapi kalau berlebihan bisa berakibat buruk; hanya menghamburkan energi.

Saat nonton drama, pengen banget cepet-cepet liat endingnya. Ampe gregetan. Ngga sabaran. Sampe-sampe, kita kadang atau sering bela-belain anteng di depan TV atau komputer untuk nonton ntu drama dari awal sampe habis. Dari pagi ampe malem bahkan kadang hingga dini hari. Apa pendorongnya? Rasa penasaran tingkat tinggi.

Saat menjalani hidup, terakadang kita begitu bukan? Tanpa kita sadari. Kemudian kita terlalu memusatkan perhatian seluruh daya upaya pikiran energi pada hal itu. Biasanya sih hal yang membuat kita khawatir.

Hidup itu proses. Hidup itu waktu. Setiap individu punya waktunya masing-masing.

Inget banget dulu pas jaman kuliah. Nonton bareng temen kosan, nonton K-drama yang lagi hit, Full House. Non-Stop dari pagi ampe malem. Mandi jadi pada males, maunya mentengin tipi aja.hihihi…*oh past…u’re so bad, begitu boros menghabiskan waktu luang dengan hanya duduk manis depan tipi. It’s OK. Toh selama hari biasa, kita cukup sibuk mondar mandir ke sana ke mari; dari kosan ke kampus dalam sehari aja kadang bisa lebih, atau dari satu kelas ke kelas lain. Hari libur? waktunya duduk manis saja.hahaha…. :))

Belajar dari efek buruk saat ngotot nonton drama sekali trip langsung habis semua episodenya, yang biasanya efeknya buruk terutama dalam segi kesehatan [; kurang tidur, kurang istirahat, otak kurang oksigen, paru-paru tidak mendapatkan udara yang baik, saluran sekresi juga kadang ikut kena imbas karena pas sudah alarmnya, kita tahan-tahan karena nanggung lagi tegang-tegangnya, mandi jadi cuma satu kali saja, dll].

Begitu juga jika kita ngotot dalam kehidupan nyata; pengen cepet-cepet berada di ending. It’s still long long way to go bud! let’s just rock it on!

Boleh saja berlari, memang terkadang mungkin kita memang perlu untuk berlari. Tetapi akan lebih baik, mungkin, jika walaupun harus berlari, tetap dengan ritme napas normal. *bisa ngga ya…

Road,

we never know

will it be short or

will it be long

no matter how long

no matter how short

just keep on walking

keep on running

may not forget to rest

if you need to

for your enjoying

your own trip

in your own road

but hey! your road

may be others’ road too

my road can be your road

yours can be mine

it’s everybody’s road

we walk

we run

we stop, 

an interlude

*apa sih intinya? 😀

H2C: Hormati Hak Cipta

Standar
All_rights_reserved

Picture source: Paramount pictures in Wikipedia

Another self reminder. Sadar sesadar-sadarnya, bahwa saya belum profesional dalam hal menghormati hasil karya orang. Saya cenderung main comot foto entah karya siapa untuk ilustrasi tulisan saya. Dan saya tidak memberikan link sumber foto tersebut.

Kalau Eyang-eyang bilang, “Kamu itu ngga ngerti toto kromo…”   (-.-)”

Saya menyadari perihal selonong boy ini setelah menemukan beberapa blog dan melihat bahwa mereka benar-benar menggunakan foto ilustrasi hasil karya sendiri untuk tulisan mereka. Salut banget sama mereka. Itu menunjukkan tingkat keseriusan menangani tulisan sendiri. Tak hanya menangani tulisan saja, tetapi juga ilustrasi tulisan tersebut.

Dan jikapun mereka memakai foto karya orang, mereka memberikan link sumbernya. Hm. Tetapi tetap saja setelah saya sadar, saya cenderung lebih memilih menggunakan gambar atau foto hasil bidikan sendiri sebagai ilustrasi tulisan –harus belajar percaya diri juga untuk memajang gambar ataupun hasil bidikan sendiri yang tingkat kualitasnya masih ala kadarnya 😀

Juga menjadi sungkan untuk menggunakan gambar atau foto hasil karya orang walaupun dengan menyertakan link sumber, tetapi penggunaannya masih dalam versi “selonong boy” alias ngga pake ijin dulu sama sang empunya karya. Rasanya gimana gitu…

Kalaupun mau menggunakan hasil karya orang sebagai ilustrasi tulisan, lebih baik minjem ke teman saja. Lebih jelas dan mudah perihal perizinannya.hihi…*ngelirik kanan kiri nyari sasaran 😀

Jadi, walaupun tidak ada pencatuman pernyataan penegasan hak cipta suatu gambar atau foto beserta prosedur perizinan menggunakannya untuk keperluan apapun, ayo kita hormati dengan selalu mencantumkan link sumbernya. Jangan ampe lupa! Kalau yang sudah terlanjur apa boleh buat. *ngelirik post-post sendiri yang begitu 😛

Untuk yang terlanjur tidak menyertakan link sumber, cantumkan saja catatan bahwa ilustrasi yang digunakan bukan karya kita.

Hak Cipta atau yang juga kita kenal dengan istilah Copyright dan beken dengan simbol ini ©, amat sangat berharga sekecil apapun sebuah karya.

H2C!

ps: catatan ini highly dedicated untuk saya sendiri. Sebagai pengingat untuk H2C! 😛

Embun Kaca Warna

Standar
HD Abstract Wallpapers 17

HD Abstract Wallpapers 17

Saya masih ingat betul saat saya harus pergi dari tempat itu, zona aman saya selama lebih dari empat tahun lebih. Sudah saatnya saya pergi dari sana. Sudah saatnya kaki ini melangkah ke tempat baru.

Sesak rasanya meninggalkan semua yang sudah terlukis jelas di hati. Warna-warnanya indah.

Dengan haru biru saya pergi meninggalkan tempat itu, masa itu. Sudah berlalu kawan. Masanya sudah habis. Kalau diibaratkan film, sudah waktunya memasuki sekuel selanjutnya.

Haru biru. Ya dengan berharu biru diri ini mau tak mau menyambut masa baru. Masih dengan mata sembab, seperti kaca saat hujan baru saja reda. Masih berembun.

Melihat dari kaca berembun? Walaupun pemandangan di luar sangat bagus, tetap saja terlihat buram.

Begitulah cara saya memandang masa baru yang saya hadapi. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Tidak akan ada lagi wajah-wajah itu yang sudah saya percayakan dengan tangan-tangan mereka akan menopang saya ketika saya jatuh. Tidak ada. Semuanya baru. Tempat dan manusianya.

Namun, segala sesuatu memang membutuhkan waktu. Sedikit demi sedikit titik embun di kaca saya menguap dan sampai pada akhirnya kaca saya kembali bening dan sayapun akhirnya bisa melihat pemandangan di luar sana dengan jelas. Warna-warna baru dan kini terlihat sangat jelas.

Time goes by

As always

It will never stop

Unless HE says so

Time leads us

Find things

Many things

To learn

To understand

To draw

Lines

To continue

Life.

We come

Then Leave

From one place

To another

From one term

To Another

From one season

To the other seasons

From life

To the afterlife

Time leads us there

Finally.

11/23/2012 10:09 PM. Pasca nonton Gokusen Special edition, yang membawa saya pada memori masa hijrah dari episode kuliah ke episode bekerja, dari pulau yang satu ke pulau lainnya 😀

Pelangi, tak hanya ada di langit bukan? Ia juga ada di setiap wajah 🙂

“The colours of the rainbow so pretty in the sky, are also on the faces of people passing by. I see friends shaking hands, saying ‘How do you do?’, They’re really saying I Love you…” –What A Wonderful World–

abstract_rainbow_wallpaper_by_xxtomekxx-normal

rainbow_colors_wet_flower_wide_wallpaper-t2

Kekuatan Sayap Serdadu Kumbang

Standar
Alenia Picture

Alenia Picture

Siapa yang tidak tahu dengan film Serdadu Kumbang? Film drama Indonesia tersebut release di tanggal 16 Juni 2011. Kalau masih ada yang belum, keterlaluan ya!
–dan saya hampir yang termasuk kategori “keterlaluan” bulan lalu 😀

Sewaktu dengar lagu ini untuk pertama kalinya dalam film Serdadu Kumbang, saya langsung suka. Ada kekuatan magis sendiri dari kerja sama tim lagu ini; musik, lirik, dan nada lagu. Kumbang itu kecil, apalagi sayapnya. Kumbang tidak seringan kupu-kupu. Tapi, disini serdadu-serdadu kumbang itu juga melesat terbang tinggi 🙂

Terbang tinggi ke awan
Mungkin ada yang bisa ku temukan
Menyeberangi ilalang
Walaupun jauh yang harus ku tempuh

Jalan masihlah panjang

Banyak keinginan yang dilupakan
Masih harus berjuang
Percayalah masih ada banyak harapanTerbanglah terbang raihlah mimpi
Jangan berhenti terbanglah serdadu kumbangMaju serdadu kumbang
Jangan menyerah rintangan menghalang
Tenang jalani semua
Percayalah harapan itu masih adaTerbanglah terbang raihlah mimpi
Jangan berhenti terbanglah tinggi
Terbanglah terbang raihlah mimpi
Jangan berhenti terbanglah serdadu kumbang……

In Between

Standar

In Between

They’re not twin

Though sometimes they seem alike

They’re completely different

When we were in between

Which one to choose

Ask ourselves

We see

We hear

We learn

We try

To understand

Where to go

Whom to choose

Whom to hold

Whom to release

Once we decide

Firstly feels like releasing

But then feels like losing

As always

As once and many times

To be in between

Ketika dalam posisi harus memilih, diri ini benar-benar digembleng untuk bisa memutuskan. Hidup itu pilihan, kawan! Tidak mau memilih? Ya tidak hidup *ya? bagaimana tidak? tidak mau memutuskan untuk memilih berarti kita memutuskan untuk jalan di tempat saja sedangkan hidup itu waktu yang terus berjalan. Mau maju atau mundur? kalau tetap diam di tempat yang sama nanti bisa ketabrak orang. *Memangnya hidup itu lalu lintas? yess. Life is a traffic. Di jalan raya, kalau ada kendaraan mogok jadi menganggu mobilitas yang lain kan? Mau jadi pihak yang menyebabkan terganggunya hidup orang lain? Iya kalau mereka bisa lewat, kalau tidak? We can stop another’s life too. We make people wait us. We make people crash on us, etc. *analogi yang aneh dan membingungkan 😀

Sebagian orang punya kemampuan untuk memutuskan dalam waktu yang cukup singkat. Sebagian lagi, butuh waktu yang cukup lama untuk bisa memutuskan. Bisa jadi karena terlalu banyak pertimbangan atau bisa juga karena memang ketetapan hati belum ada dan memang memerlukan waktu sedikit lebih lama dibandingkan dengan orang kebanyakan. Ada orang seperti itu? Ada, idup lagi! hihi…

Dalam memilih bisa minta bantuan? referensi? Bisa. Bagaimana? Dengan bertanya pada hati kecil, bertukar pikiran dengan orang-orang terdekat, dan kemudian kepada Sebaik-baiknya Tempat Bertanya. Siapa? DIA Sang Aliim, DIA Yang Maha Mengetahui, Yang Memberi Petunjuk. Sebaik-baiknya tempat bertanya.

Bagaimanapun juga, berada dalam keadaan harus memilih itu mendewasakan diri. Bahkan secara tidak kita sadari. Memilih dan menghadapi resikonya. Kemudian bagaimana menghadapi resiko yang muncul. Sesungguhnya, tak perlu ada kekhawatiran. *Walaupun kekhawatiran itu in fact seringnya ikut unjuk gigi datang menyertai momen pasca melahirkan keputusan– Karena apa yang akan terjadi di esok hari, di masa depan adalah misteri terbesar dan tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui. *kembali kepada tulisan “I Like Monday?” dan “Ketentuan dan Ketetapan”.

Yang kita butuhkan setelah memutuskan, setelah memilih adalah YAKIN pada pilihan tersebut lalu mengusahakan yang terbaik untuk pilihan itu. Selanjutnya? tetep….berserah padaNYA 🙂

–tulisan ini dedicated for self of mine, sebagai pengingat, pasca melahirkan  😀