Category Archives: Notes

Sea and Spirit

Standar

Hai! Long time no see ya.

Tiga bulan terakhir kerjaan di kantor melonjak sangat amat drastis hingga lumayan sering pulang malam *ngelap jidat. Di saat-saat lonjakan itu, ada yang nyentil-nyentil di kepala minta ditulisi, tapi malangnya sentilan-sentilan itu kalah dengan slogan yang lebih kuat “Hei! Kerja itu prioritas utama! U are paid to work not to write some other things beside works!” Kadang cuma nulis draft dikit langsung ditutup karena teriakan gaib kembali terdengar, “Kerja woi kerjaaa…”

Anehnya, sentilan-sentilan untuk nulis itu sering muncul pas lagi kerja. Sepulang dari kerja, kalau sudah di kosan, keinginan mau ngelanjutin yang mencuat-cuat di kantor tadi sudah menguap. Kadang masih bisa saya lanjutin di kosan, tetapi amat sangat jarang terjadi.haha…

“Capek ah, mau nyante aja” dan sering berakhir dengan menonton saja. Padahal kalau mau nulis ya nulis aja ya…mau capek mau ngga.

Well well. Here we go. What to write? *ngelirik ke atas, nengok judul

Sea and Spirit. How it can be sea and spirit?

Here it goes.

Berkaitan dengan lonjakan kerjaan yang maha dahsyat yang pernah terjadi seumur-umur saya kerja di sini. Saking asiknya main sama kerjaan saya sampai lupa melihat teman baik di atas sana. Nyadarnya pas pulang ke rumah, pergi beli oleh-oleh sama Bapak, lewat jalan tepi pantai, whoaa… so blue! and hey! long time no see, sea! and hey! long time no see, sky…

Let’s take some pictures of you and sea too.

seashore 4

seashore 1

Akhirnya, dapet jepretan seger setelah sekian lama vacuum ga jeprat jepret.

Works been rocking since the beginning of Ramadhan. It’s rocking the first night of Ramadhan. Atasan saya, atasannya atasan saya, saya, dan tim HRD komplit masih berkutat dengan kertas-kertas dan angka hingga larut malam, ampe nyaris sahur di kantor—untungnya tidak. Yang sedihnya, ibadah jadi tidak maksimal. Fisik terkuras habis. Sabtu Minggu yang tadinya diandalkan untuk ngebut ketinggalan-ketinggalan target Ramadhan, yang efektif terpakai cuma satu kali. Selebihnya, berakhir pekan di kantor.

Rekan kerja saya yang di HRD ampe nyaris mirip mumi idup mukanya, pucet dan bermata panda—hanya matanya. Secara fisik dia tidak seperti panda karena dia bukan tipe orang yang tukang makan dan berbadan tambun. Nyanyinya sama ampe di hari terakhir kerja sebelum libur lebaran: “Kapan ya bisa libur…” lagu itu ada karena dia belum pernah libur, hampir satu bulan lebih ngantor terus bahkan di hari Sabtu dan Minggu.

Dan saya cuma bisa menghiburnya dengan lagu begini:

“Sabar bos…kan ntar kantongnya tebel…”

Tahan sebentar lagi…ntar bakal libur juga and enjoy the sweet treasure of the extra (ordinary) works. *ayo kedip-kedip mata plus pake tanda Rp di mata.

Bahkan saat mau mudikpun, masih mesti ikutan berjibaku lagi di kantor ampe telat pulang dan ga sempet mandi pas mau berangkat mudik.  Tapi untungnya para penumpang travel tidak ada yang ampe jatuh pingsan. Semua tampak baik-baik saja ampe di kota tujuan.

“This is the life…

Hold on tight…”

Kerja. Ritme lagunya nano-nano. Kadang selow…kadang nge-beat nggak karuan bikin sesek napas plus jantungan—kalo kata temen saya; “pipis aja nggak sempet!” dan benar adanya. Menyelesaikan pekerjaan bisa mengalahkan kebutuhan tubuh untuk buang air kecil.ckckck…pas sempet, toiletnya dipake, mau muter ke toilet yang atu lagi, males ke sananya, rada jauh. OK, ngelanjutin kerjaan dulu aja bentar, dan kemudian disusul dengan kerjaan-kerjaan yang ajaibnya berdatangan dan deadline pengerjaannya “S-E-K-A-R-A-N-G”

The tension is high, the faces are folded, the foreheads are wrinkled, the hearts are tired. Oxygen please! Di saat-saat seperti itu untung saja ada aja yang bisa bikin ketawa atau setidaknya bikin tersenyum—walaupun terkadang harus sedikit memaksa dibalik rayuan pulau kelapa.wkwkwk..the one who fortunately got a few seconds to breath will be the culprit to make the other(s) laugh or at least smile, sehingga tensinya lumayan bisa turun dikit.

The great thing is that we still can laugh in both kind of extremely different rhythm. A happy laugh or A silly happy laugh. I keep it in my mind: saya kerja, saya dibayar, so just do as best as I can, be grateful for the work I have. Di saat masih ada yang susah dapet kerja, untuk saya yang punya pekerjaan, ya tugas saya cuma tinggal bekerja dengan baik.

Kembali ke laut. Yess, sea…long time no sea.

There I can see Sea and Spirit, yang sempat terlupakan. Spirit on working, eh?

Satu kali, dua kali, tiga kali, beberapa kali, ingin mengangkat tangan dan berkata: “nyerah dah, angkat tangan…”

Tetapi, tidak tidak tidak. Hang on…just a little bit longer..hang on hang on. Masak kalah ama hanger….(???)

“Gonna follow my own lead, yeah!
Kick back and feel the breeze!
Nothing but the blue sky!
As far as I can see…. “–This Is The Life, Miley Cyrus–

“Might need to wing it
Still gonna bring it
Not gonna sink low
I’m going swimming
Swing for the fences
Sky’s not the limit today
Yeah….

So far so great, get with it
At least that’s how I see it
Having a dream’s just the beginning” –So Far So Great, Demi Lovato–

and always just a beginning… 🙂

Catatan Kecil 002.040313

Standar

Pernah tidak merasa bahwa kita tidak cukup sabar untuk mengetahui ending suatu cerita? Seperti saat kita menonton drama atau film atau membaca novel. Sampai larut malam atau bahkan dini hari. Mengacuhkan kegiatan rutin yang baik untuk kesehatan. Terkadang tanpa kita sadari, kita juga begitu dalam hidup.

Begitu bagaimana?

“Begitu” dalam artian “ngotot” ingin sekali segera mendapatkan memperoleh menyelesaikan sesuatu yang masih dalam proses. Ngotot itu baik, biar semangat. Tetapi kalau berlebihan bisa berakibat buruk; hanya menghamburkan energi.

Saat nonton drama, pengen banget cepet-cepet liat endingnya. Ampe gregetan. Ngga sabaran. Sampe-sampe, kita kadang atau sering bela-belain anteng di depan TV atau komputer untuk nonton ntu drama dari awal sampe habis. Dari pagi ampe malem bahkan kadang hingga dini hari. Apa pendorongnya? Rasa penasaran tingkat tinggi.

Saat menjalani hidup, terakadang kita begitu bukan? Tanpa kita sadari. Kemudian kita terlalu memusatkan perhatian seluruh daya upaya pikiran energi pada hal itu. Biasanya sih hal yang membuat kita khawatir.

Hidup itu proses. Hidup itu waktu. Setiap individu punya waktunya masing-masing.

Inget banget dulu pas jaman kuliah. Nonton bareng temen kosan, nonton K-drama yang lagi hit, Full House. Non-Stop dari pagi ampe malem. Mandi jadi pada males, maunya mentengin tipi aja.hihihi…*oh past…u’re so bad, begitu boros menghabiskan waktu luang dengan hanya duduk manis depan tipi. It’s OK. Toh selama hari biasa, kita cukup sibuk mondar mandir ke sana ke mari; dari kosan ke kampus dalam sehari aja kadang bisa lebih, atau dari satu kelas ke kelas lain. Hari libur? waktunya duduk manis saja.hahaha…. :))

Belajar dari efek buruk saat ngotot nonton drama sekali trip langsung habis semua episodenya, yang biasanya efeknya buruk terutama dalam segi kesehatan [; kurang tidur, kurang istirahat, otak kurang oksigen, paru-paru tidak mendapatkan udara yang baik, saluran sekresi juga kadang ikut kena imbas karena pas sudah alarmnya, kita tahan-tahan karena nanggung lagi tegang-tegangnya, mandi jadi cuma satu kali saja, dll].

Begitu juga jika kita ngotot dalam kehidupan nyata; pengen cepet-cepet berada di ending. It’s still long long way to go bud! let’s just rock it on!

Boleh saja berlari, memang terkadang mungkin kita memang perlu untuk berlari. Tetapi akan lebih baik, mungkin, jika walaupun harus berlari, tetap dengan ritme napas normal. *bisa ngga ya…

Road,

we never know

will it be short or

will it be long

no matter how long

no matter how short

just keep on walking

keep on running

may not forget to rest

if you need to

for your enjoying

your own trip

in your own road

but hey! your road

may be others’ road too

my road can be your road

yours can be mine

it’s everybody’s road

we walk

we run

we stop, 

an interlude

*apa sih intinya? 😀

H2C: Hormati Hak Cipta

Standar
All_rights_reserved

Picture source: Paramount pictures in Wikipedia

Another self reminder. Sadar sesadar-sadarnya, bahwa saya belum profesional dalam hal menghormati hasil karya orang. Saya cenderung main comot foto entah karya siapa untuk ilustrasi tulisan saya. Dan saya tidak memberikan link sumber foto tersebut.

Kalau Eyang-eyang bilang, “Kamu itu ngga ngerti toto kromo…”   (-.-)”

Saya menyadari perihal selonong boy ini setelah menemukan beberapa blog dan melihat bahwa mereka benar-benar menggunakan foto ilustrasi hasil karya sendiri untuk tulisan mereka. Salut banget sama mereka. Itu menunjukkan tingkat keseriusan menangani tulisan sendiri. Tak hanya menangani tulisan saja, tetapi juga ilustrasi tulisan tersebut.

Dan jikapun mereka memakai foto karya orang, mereka memberikan link sumbernya. Hm. Tetapi tetap saja setelah saya sadar, saya cenderung lebih memilih menggunakan gambar atau foto hasil bidikan sendiri sebagai ilustrasi tulisan –harus belajar percaya diri juga untuk memajang gambar ataupun hasil bidikan sendiri yang tingkat kualitasnya masih ala kadarnya 😀

Juga menjadi sungkan untuk menggunakan gambar atau foto hasil karya orang walaupun dengan menyertakan link sumber, tetapi penggunaannya masih dalam versi “selonong boy” alias ngga pake ijin dulu sama sang empunya karya. Rasanya gimana gitu…

Kalaupun mau menggunakan hasil karya orang sebagai ilustrasi tulisan, lebih baik minjem ke teman saja. Lebih jelas dan mudah perihal perizinannya.hihi…*ngelirik kanan kiri nyari sasaran 😀

Jadi, walaupun tidak ada pencatuman pernyataan penegasan hak cipta suatu gambar atau foto beserta prosedur perizinan menggunakannya untuk keperluan apapun, ayo kita hormati dengan selalu mencantumkan link sumbernya. Jangan ampe lupa! Kalau yang sudah terlanjur apa boleh buat. *ngelirik post-post sendiri yang begitu 😛

Untuk yang terlanjur tidak menyertakan link sumber, cantumkan saja catatan bahwa ilustrasi yang digunakan bukan karya kita.

Hak Cipta atau yang juga kita kenal dengan istilah Copyright dan beken dengan simbol ini ©, amat sangat berharga sekecil apapun sebuah karya.

H2C!

ps: catatan ini highly dedicated untuk saya sendiri. Sebagai pengingat untuk H2C! 😛

Embun Kaca Warna

Standar
HD Abstract Wallpapers 17

HD Abstract Wallpapers 17

Saya masih ingat betul saat saya harus pergi dari tempat itu, zona aman saya selama lebih dari empat tahun lebih. Sudah saatnya saya pergi dari sana. Sudah saatnya kaki ini melangkah ke tempat baru.

Sesak rasanya meninggalkan semua yang sudah terlukis jelas di hati. Warna-warnanya indah.

Dengan haru biru saya pergi meninggalkan tempat itu, masa itu. Sudah berlalu kawan. Masanya sudah habis. Kalau diibaratkan film, sudah waktunya memasuki sekuel selanjutnya.

Haru biru. Ya dengan berharu biru diri ini mau tak mau menyambut masa baru. Masih dengan mata sembab, seperti kaca saat hujan baru saja reda. Masih berembun.

Melihat dari kaca berembun? Walaupun pemandangan di luar sangat bagus, tetap saja terlihat buram.

Begitulah cara saya memandang masa baru yang saya hadapi. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Tidak akan ada lagi wajah-wajah itu yang sudah saya percayakan dengan tangan-tangan mereka akan menopang saya ketika saya jatuh. Tidak ada. Semuanya baru. Tempat dan manusianya.

Namun, segala sesuatu memang membutuhkan waktu. Sedikit demi sedikit titik embun di kaca saya menguap dan sampai pada akhirnya kaca saya kembali bening dan sayapun akhirnya bisa melihat pemandangan di luar sana dengan jelas. Warna-warna baru dan kini terlihat sangat jelas.

Time goes by

As always

It will never stop

Unless HE says so

Time leads us

Find things

Many things

To learn

To understand

To draw

Lines

To continue

Life.

We come

Then Leave

From one place

To another

From one term

To Another

From one season

To the other seasons

From life

To the afterlife

Time leads us there

Finally.

11/23/2012 10:09 PM. Pasca nonton Gokusen Special edition, yang membawa saya pada memori masa hijrah dari episode kuliah ke episode bekerja, dari pulau yang satu ke pulau lainnya 😀

Pelangi, tak hanya ada di langit bukan? Ia juga ada di setiap wajah 🙂

“The colours of the rainbow so pretty in the sky, are also on the faces of people passing by. I see friends shaking hands, saying ‘How do you do?’, They’re really saying I Love you…” –What A Wonderful World–

abstract_rainbow_wallpaper_by_xxtomekxx-normal

rainbow_colors_wet_flower_wide_wallpaper-t2

Kekuatan Sayap Serdadu Kumbang

Standar
Alenia Picture

Alenia Picture

Siapa yang tidak tahu dengan film Serdadu Kumbang? Film drama Indonesia tersebut release di tanggal 16 Juni 2011. Kalau masih ada yang belum, keterlaluan ya!
–dan saya hampir yang termasuk kategori “keterlaluan” bulan lalu 😀

Sewaktu dengar lagu ini untuk pertama kalinya dalam film Serdadu Kumbang, saya langsung suka. Ada kekuatan magis sendiri dari kerja sama tim lagu ini; musik, lirik, dan nada lagu. Kumbang itu kecil, apalagi sayapnya. Kumbang tidak seringan kupu-kupu. Tapi, disini serdadu-serdadu kumbang itu juga melesat terbang tinggi 🙂

Terbang tinggi ke awan
Mungkin ada yang bisa ku temukan
Menyeberangi ilalang
Walaupun jauh yang harus ku tempuh

Jalan masihlah panjang

Banyak keinginan yang dilupakan
Masih harus berjuang
Percayalah masih ada banyak harapanTerbanglah terbang raihlah mimpi
Jangan berhenti terbanglah serdadu kumbangMaju serdadu kumbang
Jangan menyerah rintangan menghalang
Tenang jalani semua
Percayalah harapan itu masih adaTerbanglah terbang raihlah mimpi
Jangan berhenti terbanglah tinggi
Terbanglah terbang raihlah mimpi
Jangan berhenti terbanglah serdadu kumbang……

In Between

Standar

In Between

They’re not twin

Though sometimes they seem alike

They’re completely different

When we were in between

Which one to choose

Ask ourselves

We see

We hear

We learn

We try

To understand

Where to go

Whom to choose

Whom to hold

Whom to release

Once we decide

Firstly feels like releasing

But then feels like losing

As always

As once and many times

To be in between

Ketika dalam posisi harus memilih, diri ini benar-benar digembleng untuk bisa memutuskan. Hidup itu pilihan, kawan! Tidak mau memilih? Ya tidak hidup *ya? bagaimana tidak? tidak mau memutuskan untuk memilih berarti kita memutuskan untuk jalan di tempat saja sedangkan hidup itu waktu yang terus berjalan. Mau maju atau mundur? kalau tetap diam di tempat yang sama nanti bisa ketabrak orang. *Memangnya hidup itu lalu lintas? yess. Life is a traffic. Di jalan raya, kalau ada kendaraan mogok jadi menganggu mobilitas yang lain kan? Mau jadi pihak yang menyebabkan terganggunya hidup orang lain? Iya kalau mereka bisa lewat, kalau tidak? We can stop another’s life too. We make people wait us. We make people crash on us, etc. *analogi yang aneh dan membingungkan 😀

Sebagian orang punya kemampuan untuk memutuskan dalam waktu yang cukup singkat. Sebagian lagi, butuh waktu yang cukup lama untuk bisa memutuskan. Bisa jadi karena terlalu banyak pertimbangan atau bisa juga karena memang ketetapan hati belum ada dan memang memerlukan waktu sedikit lebih lama dibandingkan dengan orang kebanyakan. Ada orang seperti itu? Ada, idup lagi! hihi…

Dalam memilih bisa minta bantuan? referensi? Bisa. Bagaimana? Dengan bertanya pada hati kecil, bertukar pikiran dengan orang-orang terdekat, dan kemudian kepada Sebaik-baiknya Tempat Bertanya. Siapa? DIA Sang Aliim, DIA Yang Maha Mengetahui, Yang Memberi Petunjuk. Sebaik-baiknya tempat bertanya.

Bagaimanapun juga, berada dalam keadaan harus memilih itu mendewasakan diri. Bahkan secara tidak kita sadari. Memilih dan menghadapi resikonya. Kemudian bagaimana menghadapi resiko yang muncul. Sesungguhnya, tak perlu ada kekhawatiran. *Walaupun kekhawatiran itu in fact seringnya ikut unjuk gigi datang menyertai momen pasca melahirkan keputusan– Karena apa yang akan terjadi di esok hari, di masa depan adalah misteri terbesar dan tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui. *kembali kepada tulisan “I Like Monday?” dan “Ketentuan dan Ketetapan”.

Yang kita butuhkan setelah memutuskan, setelah memilih adalah YAKIN pada pilihan tersebut lalu mengusahakan yang terbaik untuk pilihan itu. Selanjutnya? tetep….berserah padaNYA 🙂

–tulisan ini dedicated for self of mine, sebagai pengingat, pasca melahirkan  😀

[Neverland?]: For You With Heart

Standar

Untuk apa sekolah?

Ngejar nilai bagus?

Jadi pinter?

Pengakuan masyarakat?

Untuk apa kuliah?

Agar diakui sebagai sarjana, magister, doktor?

Pintar?

Untuk apa menulis skripsi?

Orang menuntut ilmu ke sekolah untuk mendapatkan ilmu. Tetapi kebanyakan bukan pemahaman ilmu melainkan ilmu saja, tanpa pemahaman. Ilmu didapat, nilai baguspun didapat. Guru-gurupun begitu, bisa dihitung dengan jari guru-guru yang bekerja dengan hati. Atau mungkin hari ini guru-guru yang bekerja dengan hati sudah banyak jumlahnya? Ah, saya kurang tahu itu. Ok. Kita katakana saja sebagian. Ya. Sebagian. Sebagian hanya untuk memenuhi tuntutan hidup; memiliki pendapatan. Pendapatan dirasa tidak sesuai dengan jasa yang diberikan, sehingga bekerjapun jadi enggan. Jerih payah tidak terbayarkan.

Penghargaan dari pemerintah terhadap guru minim. Mungkin karena dikira sangat sederhana, hanya menurunkan ilmu, atau bahkan bisa dilakukan dengan menurunkan apa yang ada di buku. Menurunkan begitu saja; mentah-mentah.

Tak sadarkah pemerintah, bahwa guru membutuhkan kekuatan ekstra untuk mengajar. Beragam tingkat kemampuan dan karakter pribadi yang dihadapi guru. Jika di dalam satu kelas ada 30 siswa, berarti maksimal akan ada 30 jenjang tangga kemampuan dan 30 warna karakter. Seorang guru yang hanya dengan satu otak—seperti halnya semua manusia juga begitu—seharusnya memikirkan bagaimana cara mengajar yang baik yang dapat mencakup 30 jenjang anak tangga dan 30 warna tersebut. Bagaimana ia bisa menyatukan 30 anak tangga menjadi satu lantai dan 30 warna tersebut tetap dengan warnanya masing-masing, bahkan mempertegas warna yang terang dan menerangkan warna-warna yang tadinya redup. Mengubah 30 warna yang mungkin sedikit kusam karena adanya warna-warna gelap dan pucat, menjadi pelangi cerah nan indah.

Bukan hanya siswa yang akan berpikir sepulang sekolah, selepas kelas perkuliahan, memikirkan apa yang telah mereka dapatkan di kelas, memikirkan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan, melainkan juga para guru, dosen berpikir keras, bertanya pada diri sendiri apakah mereka telah melakukan yang terbaik dalam mengajar. Apa yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan hari ini atau menjadi lebih baik di kelas berikutnya. Semua pengajar yang menyertai hati pasti akan melakukan hal tersebut. Dan proses berpikir mereka itu bisa kita sejajarkan dengan ilmuwan yang sedang berpikir keras akan penelitian mereka.

Namun, mirisnya, para pengajar tersebut kurang dihargai. Harga yang saya tekankan di sini adalah harga yang sesungguhnya. Harga yang sepatutnya mereka peroleh bisa sejajar dengan para ilmuwan. Toh mereka sama kerasnya berpikir seperti para ilmuwan hebat. Hm. Tak heran juga, jangankan para pengajar, para ilmuwan di negeri ini juga kurang diperhatikan. Nasib mereka sama saja dengan para pengajar. Ya?

Sebenarnya mau kemana layar negeri ini dibawa? Ilmuwan-ilmuwan kita banyak yang jauh lebih dihargai di negeri orang.

Ehm. Mari kita kembali kepada para pengajar. Miris saya saat telah mengetahui bahwa kesejahteraan para pengajar di tingkat perguruan tinggi sama menyedihkannya dengan para pengajar di tingkat sekolah. Padahal mereka-mereka inilah yang bekerja keras mendidik sekaligus mematangkan kedewasaan pemikiran calon-calon penerus bangsa. Saya pernah membaca keluhan dosen saya perihal honor beliau dan rekan-rekan dan sistem yang diberlakukan oleh instansi tempat beliau mengabdi.

Melihat kembali ke para pengajar di tingkat sekolah; para pengajar honorer yang mesti menunggu tiga bulan baru menerima honor. Bayangkan saja kalau itu Pak guru. Beliau adalah Pak guru yang sekaligus kepala keluarga atau walaupun belum berkeluarga, beliau adalah tulang punggung keluarga. Selama tiga bulan beliau bekerja tetapi belum bisa menerima hasil. Kemungkinan ada yang sampai mau tak mau berhutang dulu. Pangajar honorer di tingkat sekolah, terutama di daerah, status itu rata-rata bertahan dalam hitungan tahun; 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun.

Mirisnya lagi, para guru honorer tersebut, yang dengan pengabdian dengan penuh kesabaran dan penuh harap untuk satu waktu dimana nanti mereka mendapatkan pengangkatan menjadi guru, tetap bergaji tetap setiap bulan, harus bersaing ketat dengan para guru hororer fresh yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak berwenang pemberi pengangkatan pegawai tetap atau para guru honorer fresh yang sangat mampu dari segi keuangan.

Sedih hati ini saat pernah mendengar langsung dari seorang Ibu guru honorer biasa—biasa disini maksud saya adalah bahwa beliau dan keluarga beliau tidak ada yang mendapatkan sebutan sebagai pejabat berwenang di dunia pendidikan atau uang yang cukup banyak untuk ditumpuk dijadikan jenjang pintas untuk naik jabatan menjadi guru tetap—bahwa nama beliau tidak termasuk dalam daftar nama-nama guru yang diangkat menjadi pegawai negeri tetap, padahal beliau sudah mengajar selama sekian tahun dan sudah beberapa kali beliau memperjuangkan sendiri di jalur yang benar mengikuti prosedur yang semestinya—termasuk dengan prosedur administrasi yang berbelit-belit tentunya—tetapi tetap saja nama beliau tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Rumah beliau sangat sederhana, tetapi dengan kesangatsederhanaan ekonomi, beliau masih mau berbagi beberapa meter dari bagian rumah sempit beliau sebagai tempat rak-rak buku dan ruang duduk untuk tempat bacaan gratis. Bisa kita lihat bukan, siapa yang bersungguh-sungguh hatinya memberikan distribusi bagi pendidikan.

Sama tak lebih baiknya di tingkat perguruan tinggi. Di sana, mestinya dapat ditelurkan para sarjana sejati; lulus setelah melakukan penyelaman ke dalam lautan ilmu yang telah ia ciptakan selama lebih kurang 4 tahun. Penyelaman dimana ia mengamati menganalisa apa saja isi di dalamnya dan hasil apa yang dapat terus ia olah, hasilkan dan kembangbiakan di dalam lautan ilmunya tersebut. Hasil penyelaman tersebut adalah berupa karya tulis yang kita kenal dengan skripsi.

Mahasiswa melakukan penyelaman dengan sungguh-sungguh. Menganalisa sesuatu dengan perangkat ilmu menyelam yang telah ia miliki dan dengan bimbingan dosen-dosen tentunya. Kolaborasi kesungguhan tersebut seharusnya dapat menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah yang layak terbit.

Tetapi, kenyataannya sangat jauh dari utopia di atas. Kebanyakan mahasiswa mengerjakan skripsi hanya sebatas bayar hutang. Melakukan penyelaman yang seadanya. Plagiate, copy paste skripsi-skripsi sebelumnya atau skripsi-skripsi dari perguruan tetangga baik tetangga dekat ataupun jauh.  Dosenpun kebanyakan tidak sungguh-sungguh membimbing. Alih-alih membimbing ke jalan yang benar, malah membimbing ke jalan sesat. Alhasil, mental sarjana kita menyedihkan.

Saya merasa beruntung sempat merasakan gemblengan dosen terutama saat menyelesaikan skripsi. Dosen-dosen saya memang sangat ketat dalam hal pengutipan sumber acuan analisa. Sehingga dalam pengerjaan skripis, saya benar-benar merasa dibimbing untuk melakukan analisa. Tulisan saya benar-benar dikritik habis dan saya benar-benar menjadi pusing dan sering pulang dengan hati menganga dengan sebuah kesadaran: “tulisan saya jelek banget. Bahasanya rumit dan berantakan. Kasihan ibu dosen saya, mengerenyit keningnya karena tulisan saya.” 😀 dengan perasaan nano-nano, terseok-seok kembali saya benahi. Dan beliau sangat banyak membantu dalam arti membimbing. Bahasa saya yang berbelok-belok dipecut untuk bisa lugas mengarah ke akar masalah. Beliau benar-benar membimbing.

Dosen pengujipun benar-benar menguji kesungguhan saya menulis skripsi; seberapa dalam saya memahami tulisan saya sendiri. Beruntung saya berada dalam jurusan dengan peraturan yang sangat ketat, sangat anti plagiarism. Tidak boleh ada judul yang sama; judul sama tetapi objek harus berbeda dan sumber acuan harus yang masih fresh. Objek penelitian yang digunakan boleh sama tetapi hal yang dianalisa tidak boleh sama.

Jungkir baliklah kami mencari judul dengan kriteria tersebut. Kami berada dalam jurusan sastra angkatan 2003. Jurusan ini ada sejak tahun 60-an. Kurang lebih sudah 40 tahun sudah jurusan ini berdiri tegak. Misalnya saja kita hitung dari tahun 90an saja—karena sepertinya yang ada di perpustakaan skripsi-skripsi dari tahun 1990-an. Tiga belas tahun. Misalkan saja setiap tahun ada 20 mahasiswa. 20 x 13 = 260 judul. Satu judul menggunakan 2 atau 3 novel; 2 x 260 judul = 520 novel atau karya yang sudah digunakan sebagai objek penelitian. Kami harus mencari karya-karya yang belum tersentuh atau subjek analisa yang belum menjamah satu karya. Sastra Inggris dan kami berada di Indonesia. Bahan-bahan referensipun cukup sulit untuk didapat. Ini baru jurusan sastra Inggris, bagaimana dengan jurusan bahasa lain yang cukup kurang menyebar keberadaannya secara fisik di negeri ini.

Tak heran jika ada beberapa rekan kami yang agak sedikit lama menyelesaikan skripsi mereka sehingga otomatis kelulusan mereka tertunda, dalam waktu yang lumayan atau sangat lama. Tetapi sedihnya, tak banyak masyarakat yang mengerti dan menganggap bahwa mahasiswa yang lama lulusnya adalah mahasiswa yang kurang pintar, tidak sungguh-sungguh. Tingkat kepintaran orang memang berbeda-beda dan tingkat kesungguhan masing-masing kita berbeda. Tetapi jangan disamaratakan begitu. Dan untuk rekan-rekan saya yang lulusnya sedikit tertunda, saya tahu betul, mereka mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan dosen kami pun dengan penuh semangat bersungguh-sungguh membimbing mereka agar bisa menjadi sarjana yang membanggakan—walaupun kadang terasa mereka terlalu sangat bersungguh-sungguh sehingga terkadang mereka sepertinya lupa bahwa mahasiswa yang mereka bimbing adalah mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan tingkat S1 bukan S2 bahkan S3 😀

Perihal skripsi, saya kurang puas terhadap karya tulis saya tersebut. Tetapi ada sedikit kebanggaan; itu benar-benar asli karya jumpalitan saya 😀 dan saya kira saya seharusnya bisa lebih jumpalitan lagi. Mental saya waktu itu benar-benar tidak maksimal.

Sedih saat mengetahui ada dosen-dosen yang tidak peduli akan skripsi mahasiswa mereka. Tidak peduli apakah itu hasil kopian atau tidak,apakah murni hasil pemikiran, apakah penelitian benar-benar dilakukan, apakah data-datanya benar-benar aktual.

Sehubungan dengan keaktualan data penelitian mahasiswa, terkadang sang mahasiswa ingin untuk memberikan data aktual hanya saja mereka terbentur birokrasi instansi pemerintah yang sama sekali kurang atau bahkan tidak mendukung, kurang atau bahkan tidak memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian, mendapatkan data yang mereka butuhkan; para pegawai yang bekerjanya setengah hati atau sama sekali zero hati hingga enggan memberikan pelayanan baik terhadap mahasiswa yang akan melakukan penelitian, atau mungkin keberbelitan dimunculkan karena ada kekhawatiran terungkapnya sesuatu yang kurang beres dalam instansi tersebut, jadi saja dipersulit, ditutupi. *edisi negatip thinking :p dan ini berdasarkan pengalaman adik saya saat melakukan pengumpulan data di instansi pemerintahan. Saat itu adik saya melakukan penelitian di beberapa kabupaten di suatu propinsi. Jumlahnya lebih dari sepuluh kabupaten dan hanya sedikit yang memberikan respon positif.

Dosen yang sungguh-sungguh pasti akan mampu mengenal mahasiswanya dengan baik terutama lewat tulisan buah hasil pemikiran mahasiswanya. Akan bisa membedakan mana yang benar-benar hasil pemikiran siswa mana yang tidak. Pengajar dan siswa idealnya tidak hanya sebatas hubungan pemberian kewajiban dan pemenuhan hak, tetapi juga dalam ruang hubungan batin. Idealnya…

Andai saja pengajar, siswa, dan instansi-instansi pemerintah pendukung melakukan peran sejati masing-masing, Alangkah indahnya negeri kita ini. Lulusan-lulusan sekolah akan lebih bermutu dengan pola-pola pikir yang benar-benar terasah dan dengan kesadaran yang tinggi akan tanggung jawab ilmu yang ia dapatkan. Apapun kesibukan yang mereka miliki di luar kegiatan menuntut ilmu—yang hadir karena tuntutan keadaan hidup seperti bekerja sembari sekolah/kuliah—bukan berarti bisa dijadikan alasan untuk tidak maksimal dalam menyelesaikan studi dengan segala tugas-tugas sebagai pembuktian hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

Jadi, siapa harus yang memulai rantai baru, memutus rantai lama yang buruk itu? Instansi pemerintah harus lebih sadar akan peran pengajar dan pelajar, menghargai dan menghormati hak-hak dan kesejahteraan pengajar dan pelajar—dalam hal memberikan kemudahan saat pelajar bersentuhan dengan instansi pemerintah dalam melakukan penelitian. Pengajar harus bersungguh-sungguh dengan sepenuh hati menurunkan ilmu dan membimbing pelajar, karena toh mereka sudah dihargai dan dihormati dengan layak oleh pemerintah (*edisi jika). Dan pelajar, belajarlah dengan benar dan sungguh-sungguh, maka tidak akan ada yang bisa disalahkan untuk hasil yang kurang bagus. Jika ada hasil yang kurang bagus, itu hanya butuh waktu yang agak sedikit panjang dibandingkan pelajar yang lain karena toh rentang waktu masing-masing individu itu berbeda dalam menyadari atau menemukan titik terbaik dalam diri mereka yang bisa membuat mereka mampu memperoleh hasil yang bagus/memuaskan.

Jadi jangan ada pelajar yang patah semangat. Setiap manusia dilahirkan dengan potensi masing-masing. Hanya saja ada yang membutuhkan waktu lebih lama atau perjuangan yang lebih berat dibandingkan dengan yang lain. Dan untuk yang membutuhkan waktu lebih lama, menemukan jalan yang lebih berliku, perjuangan yang lebih berat akan lebih baik daripada yang lebih awal.

Pembelajarannya akan sama saja. Yang lebih awal menemukan potensi terbaik dirinya—katakan saja si A—, ia akan lebih awal mengasah potensi tersebut. Tetapi bagi yang lebih lama menemukan potensi terbaiknya—sebut saja si B—, saat potensi si A sudah terasah dengan baik, si B yang baru saja menemukan potensi terbaiknya akan memiliki daya juang yang lebih yang memberikannya kekuatan untuk melakukan lesatan tinggi sehingga bisa menyamai ketinggian lesatan si A. pada akhirnya, A & B akan kembali berdampingan dengan potensi terbaik masing-masing yang sudah sangat baik terasah dan dengan tingkat kematangan diri yang tinggi.

Nah, untuk yang masih belum menemukan potensi terbaiknya, yang masih memperjuangkan cita-cita karena belum berhasil mencapainya, jangan pernah menyerah. Kerahkan segala kemampuan, fokuslah, tekunlah, tetap teguh sembari meng-arif-kan diri. Jangan patah hanya dengan kata-kata sekitar yang terkadang meremehkan. Buktikan pada mereka, di satu hari yang pasti akan datang, dimana kau bisa perlihatkan kepada mereka bahwa kau juga mampu untuk bersinar.

Jadi intinya, wahai negaraku—a.k.a seluruh penduduknya—bersungguh-sungguhlah dalam melakukan, menghargai & menghormati. Bawalah negeri ini menjadi terpandang dengan kecemerlangan sinarnya. Terdengar klise dan utopis, tetapi kenapa tidak? Jangan sampai negara ini hancur hanya karena keburukan karakter.

Untukmu, dengan hati saya. Untuk mu pelajar, pengajar dan pemerintah. AYO KITA BERUBAH! Untuk pendidikan yang lebih baik dan negeri yang dilihat dunia.

I Like Monday?

Standar

I like Monday.

That’s what people say when they are pumping spirit to face Monday, right?

Monday. The first day of working day, school days. Peralihan antara aura libur akhir pekan dengan dimulainya aktivitas rutin. Kadang memang terasa berat ya?

Whatever the day is, all we should do TO LOVE TODAY! ya! HARI INI!

HARI ANDA adalah HARI INI

TODAY IS YOUR DAY!

Menurut saya itulah kata-kata terbaik yang harus kita ngiangkan setiap hari di dalam diri.

Masih ingat wise words yang ini:

“Yesterday is history. Tomorrow is mystery. Today is a gift. That’s why we call it present.”

“The clock is running. Make the most of today. Times waits for no man…”

“Yesterday is a cancelled check. Tomorrow is a promissory note. Today is the only cash you have, so spend it wisely” (Kay Lyons)

All we should do is to give our best for today.

Bagaimana dengan planning? Apakah dengan hanya fokus kepada hari ini saja, kita tidak mesti membuat planning untuk hari depan?

Nasihat bijak selalu mengingatkan kita untuk tidak merisaukan esok, tidak berangan-angan.  Tetapi bukan berarti berencana itu buruk untuk dilakukan. Kembali kepada ketentuan mutlak; kita boleh berencana, tetapi apa yang akan terjadi sepenuhnya adalah kehendakNYA. Apapun yang kita rencanakan, kita usahakan untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa. Dengan catatan bahwa kita tidak boleh lupa untuk sepenuhnya berserah kepada ALLAH untuk apapun hasilnya. Ini yang kita sebut sebagai Tawakkal. Then we can find a peaceful heart for whatever we do, for whatever we fight for, whatever the results, whatever that may come and go, whatever that will stay.

Sometimes, we may feel worry, sad and other gloomy feelings. Sudah sifat manusia seperti itu. We can’t fight and we can’t deny that. Tetapi–lagi untuk yang sekian kalinya, hehe–we should not stay long in that gloomy atmosphere, because we all know that there will always sunshine or even plus rainbow after the rain 🙂

 

atau kita bisa juga memutuskan untuk melukiskan pelangi kita sendiri bahkan si saat badai sekalipun–eh, bisa?

daaan, sudah sifat manusia juga untuk menjadi lupa. Tahu dengan sifat tersebut akan selalu menempel pada diri kita, then as good Moslem, we should remind ourselves in every day in every single step we make, devote everything to ALLAH SWT by saying:

“Bismillaahi tawakkaltu ‘alallah…laa hawla wala quwwata illa billaah..”

Berserah diri sepenuhnya kepadaNYA kemanapun kaki melangkah 🙂