[Nanti]: The Newcomers, The Outsiders

Standar
pasar-malam-02

photo by : novianwahyu

Pasar malam hari ini ramai sekali. Maklum saja, hari ini adalah hari terakhir dan juga sekaligus puncak dari pasar malam yang telah berlangsung selama tiga minggu. Di hari terakhir ini biasanya hampir semua barang-barang yang dijual di sana diskon besar-besaran dan semua harga tiket permainanpun begitu. Walaupun barang-barangnya ya barang-barang sisa, namun tetap saja banyak peminatnya.

Malam terakhir pasar malam ini turut diramaikan pula dengan hadirnya bintang yang bertaburan di langit hitam. Indah kawan! Bayangkan saja, Lintang serasa berada di dunia sihirnya Harry Potter; Hogsmeade. Sadar akan hal itu mendadak semuanya berubah menjadi serba sihir; orang-orang berjubah dengan topi sihir mereka hilir mudik membawa belanjaan masing-masing yang tentunya juga barang-barang ajaib seperti wajan ajaib yang dengan ringannya ditenteng oleh seorang ibu separuh baya dengan banyak gambar-gambar tombol-tombol touch di sekelilingnya seperti yang ada di smartphone, buku resep kue Queen Wizard yang mengeluarkan bau manis cream dan coklat, seorang pemuda yang berjalan berkeliling menjajakan tongkat sihir anti patah dan anti rayap, tongkat kembang api yang tak akan pernah kehabisan bunga apinya, hanya saja tidak dapat kau mainkan di siang hari hanya khusus di malam hari, dan lain-lain.

Kemudian Lintang beralih ke benda yang berada di genggaman tangannya. Wajahnya berseri seketika; sebuah miniature bola bumi lengkap dengan isinya awan, air, tanah dan makhluk hidupnya, komplit! Lintang berjalan menepi menuju pinggiran trotoar sambil masih dengan seksama memperhatikan isi bola bumi mininya. Ia lelah berkeliling sementara Ibunya masih asyik memilih-milih buku resep Queen Wizard yang semuanya mengeluarkan aroma lezat dan gambar nyata yang sangat menggiurkan. Sejenak Lintang ingin duduk di tepian lapangan saja menunggu ibu. Ia menarik-narik jubah Ibu saat Ibu menoleh kepadanya Lintang menunjuk kea rah tepian lapangan yang sepi. Tangan menunjuk itu berkata: “Ibu sayang, lintang duduk di sana saja ya menunggu Ibu”. Lalu Ibu mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Bahasa isyarat memang efektif di keramaian. Kalau kau teriak, percuma saja! 😀

Yang Lintang lihat selain bola buminya adalah kaki-kaki orang-orang yang berlalu lalang. Lintang tahu ke arah mana yang ia tuju sehingga ia hanya perlu menghindari kaki-kaki tersebut agar tidak tertabrak dengan orang. Namun tiba-tiba saja,

“BRAK…!”

Seseorang menabrak Lintang dengan kencang dan tentu saja diikuti dengan daya tumbuk yang kuat. Bola dunia di genggaman Lintang terlepas, jatuh ke bawah dan menggelinding ke arah tepian lapangan dan berhenti menghempas tembok batas lapangan. Seluruh isinya spontan berserakan; kuda, burung, monyet bingung mengejar pisangnya yang jatuh, air laut bertumpah ruah. Lintang kaget. Lintang kesal. Tapi lintang adalah anak yang gesit. Yang pertama dilihatnya adalah kemana bola dunianya jatuh dan menggelinding kemudian pandangannya beralih cepat ke arah orang yang menabraknya; seorang anak laki- laki memeluk tas berlari kencang lalu melompati tembok pembatas lapangan dan hilang di sana.

Lalu pandangan Lintang beralih lagi ke bola buminya. Seluruh isinya yang kocar-kacir kini semuanya bergegas kembali ke rumah masing-masing di bumi mini itu. Lintang tersenyum. Untung saja ia beli bola dunia ajaib ini. Anti pecah dan anti rusak! Keren bukan!

Lintang memungut bola buminya dan kemudian duduk di tembok pembatas yang hanya setinggi pinggangnya itu. Memandang sebentar ke arah ibu yang ternyata masih di sana, hanya bergeser beberapa sentimenter—yang kini ada di bagian peralatan masak sihir mutakhir—kemudian teralihkan oleh derap beberapa kaki menuju arah lintang. Satu dua di antaranya berlari sambil berteriak,

“COPEEEEEET……….!”

Kalau tabrakan tadi belum mampu mebuyarkan khayalan Lintang akan dunia sihirnya, tapi teriakan copet itu membuat dunia sihir khayalannya runtuh seketika. Bola bumi mini ajaibnya kembali menjadi bola dunia biasa tapi tetap anti pecah—karena memang terbuat dari bahan bola, sebuah bola yang bergambarkan bumi 😀 —dan orang-orang di sekilingnya kembali terlihat dengan semarak baju khas penggunjung pasar malam.

Sekelompok orang yang mengejar copet tersebut sama sekali tidak menaruh curiga ke arah Lintang bahkan sama sekali tidak menghiraukan. Mereka memutuskan untuk berpencar. Lintang dengan wajah super lurusnya tertegun melihat semangat emosi yang membara dari orang-orang tersebut dan kemudian menoleh ke belakang ke arah bawah tembok di sisi belakang.

Pandangan Lintang disambut dengan seringai nakal lalu memberikan isyarat agar Lintang diam saja.

“WAAAA….KAU COPETNYA YAAA!”

“SSSSTTT…..!”

“waaa…kau copetnya yaaa…”lintang ganti berbisik.

Anak laki-laki itu kembali menyeringai. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Aman. Lalu ia membuka jaket yang ia kenakan membalikkan sisinya—yang ternyata berbeda warna dengan warna bagian luar—memakainya kembali dan memutar topi yang terbalik menjadi benar, menurunkan topi agar wajahnya sedikit tertutup. Kemudian dengan tenangnya beranjak dari tempatnya meringkuk, melompati tembok dan duduk di samping Lintang.

Menghela nafas dalam-dalam kemudian melepasnya lega.

“Terima kasih ya”

“Untuk apa?”

“Untuk ga ngasih tau mereka kalau gw ngumpet di sini”

“Oo…siapa bilang. Aku bilang ke mereka cOOPP..”

Sigap ia menyergap mulut Lintang dengan tangannya.

“Jangan….kasian gw kalau ketangkep. Tega lu ntar klo liat gw babak belur. Mereka bapak-bapak om-om lho. Nah gw? Masih bocah-bocah kaya elu. Apa kata emak gw nanti klo liat anaknya babak belur?”

“lah itu, kenapa nyopet?”

“yaelah elu, eh siapa nama lu?”

“Lintang, kamu?”

“Tuh”

“Kok tuh, nama kamu ‘Tuh’?”

“Hehe…bukan…namanya tuh…”jawabnya sambil menunjuk bola bumi di tangan Lintang.

“O. Bumi?”

“Iyeee…hehe…”

“Kenapa nyopet?” Tanya Lintang lagi.

“Emak gw sakit Tang. Jadi gw perlu duit untuk beli obat buat emak.”

“Tang..tang…Lin tau!”

“O. maaf…”

“Wuih, tukang copet bisa juga bilang maaf?”

“Ya iyalah…masa ya iya dong…hihi…ga.ga…maksud gw copet kan juga manusia…hehe…”

“Gerah gw lari-lari” Bumi melepas topinya, melonggarkan kerah jaketnya. Gulungan rambut panjang jatuh tergerai dari balik topinya. Ikal dan berwarna pirang. Lalu menggunakan topi nya untuk mengipasi dirinya yang masih kegerahan—gimana engga? Sprint, pake jaket.hihi.

“HAAAAH….!!! Kamu cewek ya?????”

“Hehe…iya…”

“Kok nyopeeet…?????”

“Lah. Kan udah gw bilang tadi kenapa…”

“Iya tapi kenapa pake nyamar segala…”

“Ya gw ga mau aja merusak image anak perempuan menjadi buruk. Yang biasanya nakal kan anak laki-laki.hihi…”

—-000—-

Lintang diajak berkunjung melihat rumah Bumi. Diantara wanita-wanita yang berkumpul, Bumi menunjuk salah satunya,

“Nah, itu emak gw Tang…”

“Lin!”

“Eh, iya, Lin…itu…emak gw…” nyengir.

“Bumi bohong ya?! Katanya ibunya sakit….itu sehat….”

“Sakit tau….”

“ih! Ga boleh ngomong gitu tau. Nanti ibunya Bumi sakit beneran…”

“Emak gw emang sakit…tapi emang ga terlalu diliatin aja sama die…”

“Beliau.” Koreksi Lintang.

“Iye, ga diliatin aja gw ampe nyopet, apalagi kalo die eh! beliau terlihat benar-benar sakit. Yang ada gw ampe sanggup ngerampok kali ya”

“Hush! jangan asal ngomong kamu…”

“Ngga papa kan Tang kalopun gw ngerampok. Ntar gw bakal milih-milih kok siapa yang bakal gw rampok. Kaya Robin Hood.hehe…”

“Hush!”

“Iye iye…ngga kok Tang. Becanda gw. Ngga mungkinlah gw ngerampok. Sekarang. Ntr klo gw bener-bener udah jago baru deh.”

Lintang? cuma bisa mendelik tajam ke arah Bumi. Dan Bumi pun akhirnya mengatupkan bibirkan rapat-rapat dan berlagak memasang resleting pada bibirnya.

—digantung ampe di sini dulu ya :p

Iklan

Say something?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s