[Neverland?]: For You With Heart

Standar

Untuk apa sekolah?

Ngejar nilai bagus?

Jadi pinter?

Pengakuan masyarakat?

Untuk apa kuliah?

Agar diakui sebagai sarjana, magister, doktor?

Pintar?

Untuk apa menulis skripsi?

Orang menuntut ilmu ke sekolah untuk mendapatkan ilmu. Tetapi kebanyakan bukan pemahaman ilmu melainkan ilmu saja, tanpa pemahaman. Ilmu didapat, nilai baguspun didapat. Guru-gurupun begitu, bisa dihitung dengan jari guru-guru yang bekerja dengan hati. Atau mungkin hari ini guru-guru yang bekerja dengan hati sudah banyak jumlahnya? Ah, saya kurang tahu itu. Ok. Kita katakana saja sebagian. Ya. Sebagian. Sebagian hanya untuk memenuhi tuntutan hidup; memiliki pendapatan. Pendapatan dirasa tidak sesuai dengan jasa yang diberikan, sehingga bekerjapun jadi enggan. Jerih payah tidak terbayarkan.

Penghargaan dari pemerintah terhadap guru minim. Mungkin karena dikira sangat sederhana, hanya menurunkan ilmu, atau bahkan bisa dilakukan dengan menurunkan apa yang ada di buku. Menurunkan begitu saja; mentah-mentah.

Tak sadarkah pemerintah, bahwa guru membutuhkan kekuatan ekstra untuk mengajar. Beragam tingkat kemampuan dan karakter pribadi yang dihadapi guru. Jika di dalam satu kelas ada 30 siswa, berarti maksimal akan ada 30 jenjang tangga kemampuan dan 30 warna karakter. Seorang guru yang hanya dengan satu otak—seperti halnya semua manusia juga begitu—seharusnya memikirkan bagaimana cara mengajar yang baik yang dapat mencakup 30 jenjang anak tangga dan 30 warna tersebut. Bagaimana ia bisa menyatukan 30 anak tangga menjadi satu lantai dan 30 warna tersebut tetap dengan warnanya masing-masing, bahkan mempertegas warna yang terang dan menerangkan warna-warna yang tadinya redup. Mengubah 30 warna yang mungkin sedikit kusam karena adanya warna-warna gelap dan pucat, menjadi pelangi cerah nan indah.

Bukan hanya siswa yang akan berpikir sepulang sekolah, selepas kelas perkuliahan, memikirkan apa yang telah mereka dapatkan di kelas, memikirkan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan, melainkan juga para guru, dosen berpikir keras, bertanya pada diri sendiri apakah mereka telah melakukan yang terbaik dalam mengajar. Apa yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan hari ini atau menjadi lebih baik di kelas berikutnya. Semua pengajar yang menyertai hati pasti akan melakukan hal tersebut. Dan proses berpikir mereka itu bisa kita sejajarkan dengan ilmuwan yang sedang berpikir keras akan penelitian mereka.

Namun, mirisnya, para pengajar tersebut kurang dihargai. Harga yang saya tekankan di sini adalah harga yang sesungguhnya. Harga yang sepatutnya mereka peroleh bisa sejajar dengan para ilmuwan. Toh mereka sama kerasnya berpikir seperti para ilmuwan hebat. Hm. Tak heran juga, jangankan para pengajar, para ilmuwan di negeri ini juga kurang diperhatikan. Nasib mereka sama saja dengan para pengajar. Ya?

Sebenarnya mau kemana layar negeri ini dibawa? Ilmuwan-ilmuwan kita banyak yang jauh lebih dihargai di negeri orang.

Ehm. Mari kita kembali kepada para pengajar. Miris saya saat telah mengetahui bahwa kesejahteraan para pengajar di tingkat perguruan tinggi sama menyedihkannya dengan para pengajar di tingkat sekolah. Padahal mereka-mereka inilah yang bekerja keras mendidik sekaligus mematangkan kedewasaan pemikiran calon-calon penerus bangsa. Saya pernah membaca keluhan dosen saya perihal honor beliau dan rekan-rekan dan sistem yang diberlakukan oleh instansi tempat beliau mengabdi.

Melihat kembali ke para pengajar di tingkat sekolah; para pengajar honorer yang mesti menunggu tiga bulan baru menerima honor. Bayangkan saja kalau itu Pak guru. Beliau adalah Pak guru yang sekaligus kepala keluarga atau walaupun belum berkeluarga, beliau adalah tulang punggung keluarga. Selama tiga bulan beliau bekerja tetapi belum bisa menerima hasil. Kemungkinan ada yang sampai mau tak mau berhutang dulu. Pangajar honorer di tingkat sekolah, terutama di daerah, status itu rata-rata bertahan dalam hitungan tahun; 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun.

Mirisnya lagi, para guru honorer tersebut, yang dengan pengabdian dengan penuh kesabaran dan penuh harap untuk satu waktu dimana nanti mereka mendapatkan pengangkatan menjadi guru, tetap bergaji tetap setiap bulan, harus bersaing ketat dengan para guru hororer fresh yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak berwenang pemberi pengangkatan pegawai tetap atau para guru honorer fresh yang sangat mampu dari segi keuangan.

Sedih hati ini saat pernah mendengar langsung dari seorang Ibu guru honorer biasa—biasa disini maksud saya adalah bahwa beliau dan keluarga beliau tidak ada yang mendapatkan sebutan sebagai pejabat berwenang di dunia pendidikan atau uang yang cukup banyak untuk ditumpuk dijadikan jenjang pintas untuk naik jabatan menjadi guru tetap—bahwa nama beliau tidak termasuk dalam daftar nama-nama guru yang diangkat menjadi pegawai negeri tetap, padahal beliau sudah mengajar selama sekian tahun dan sudah beberapa kali beliau memperjuangkan sendiri di jalur yang benar mengikuti prosedur yang semestinya—termasuk dengan prosedur administrasi yang berbelit-belit tentunya—tetapi tetap saja nama beliau tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Rumah beliau sangat sederhana, tetapi dengan kesangatsederhanaan ekonomi, beliau masih mau berbagi beberapa meter dari bagian rumah sempit beliau sebagai tempat rak-rak buku dan ruang duduk untuk tempat bacaan gratis. Bisa kita lihat bukan, siapa yang bersungguh-sungguh hatinya memberikan distribusi bagi pendidikan.

Sama tak lebih baiknya di tingkat perguruan tinggi. Di sana, mestinya dapat ditelurkan para sarjana sejati; lulus setelah melakukan penyelaman ke dalam lautan ilmu yang telah ia ciptakan selama lebih kurang 4 tahun. Penyelaman dimana ia mengamati menganalisa apa saja isi di dalamnya dan hasil apa yang dapat terus ia olah, hasilkan dan kembangbiakan di dalam lautan ilmunya tersebut. Hasil penyelaman tersebut adalah berupa karya tulis yang kita kenal dengan skripsi.

Mahasiswa melakukan penyelaman dengan sungguh-sungguh. Menganalisa sesuatu dengan perangkat ilmu menyelam yang telah ia miliki dan dengan bimbingan dosen-dosen tentunya. Kolaborasi kesungguhan tersebut seharusnya dapat menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah yang layak terbit.

Tetapi, kenyataannya sangat jauh dari utopia di atas. Kebanyakan mahasiswa mengerjakan skripsi hanya sebatas bayar hutang. Melakukan penyelaman yang seadanya. Plagiate, copy paste skripsi-skripsi sebelumnya atau skripsi-skripsi dari perguruan tetangga baik tetangga dekat ataupun jauh.  Dosenpun kebanyakan tidak sungguh-sungguh membimbing. Alih-alih membimbing ke jalan yang benar, malah membimbing ke jalan sesat. Alhasil, mental sarjana kita menyedihkan.

Saya merasa beruntung sempat merasakan gemblengan dosen terutama saat menyelesaikan skripsi. Dosen-dosen saya memang sangat ketat dalam hal pengutipan sumber acuan analisa. Sehingga dalam pengerjaan skripis, saya benar-benar merasa dibimbing untuk melakukan analisa. Tulisan saya benar-benar dikritik habis dan saya benar-benar menjadi pusing dan sering pulang dengan hati menganga dengan sebuah kesadaran: “tulisan saya jelek banget. Bahasanya rumit dan berantakan. Kasihan ibu dosen saya, mengerenyit keningnya karena tulisan saya.” 😀 dengan perasaan nano-nano, terseok-seok kembali saya benahi. Dan beliau sangat banyak membantu dalam arti membimbing. Bahasa saya yang berbelok-belok dipecut untuk bisa lugas mengarah ke akar masalah. Beliau benar-benar membimbing.

Dosen pengujipun benar-benar menguji kesungguhan saya menulis skripsi; seberapa dalam saya memahami tulisan saya sendiri. Beruntung saya berada dalam jurusan dengan peraturan yang sangat ketat, sangat anti plagiarism. Tidak boleh ada judul yang sama; judul sama tetapi objek harus berbeda dan sumber acuan harus yang masih fresh. Objek penelitian yang digunakan boleh sama tetapi hal yang dianalisa tidak boleh sama.

Jungkir baliklah kami mencari judul dengan kriteria tersebut. Kami berada dalam jurusan sastra angkatan 2003. Jurusan ini ada sejak tahun 60-an. Kurang lebih sudah 40 tahun sudah jurusan ini berdiri tegak. Misalnya saja kita hitung dari tahun 90an saja—karena sepertinya yang ada di perpustakaan skripsi-skripsi dari tahun 1990-an. Tiga belas tahun. Misalkan saja setiap tahun ada 20 mahasiswa. 20 x 13 = 260 judul. Satu judul menggunakan 2 atau 3 novel; 2 x 260 judul = 520 novel atau karya yang sudah digunakan sebagai objek penelitian. Kami harus mencari karya-karya yang belum tersentuh atau subjek analisa yang belum menjamah satu karya. Sastra Inggris dan kami berada di Indonesia. Bahan-bahan referensipun cukup sulit untuk didapat. Ini baru jurusan sastra Inggris, bagaimana dengan jurusan bahasa lain yang cukup kurang menyebar keberadaannya secara fisik di negeri ini.

Tak heran jika ada beberapa rekan kami yang agak sedikit lama menyelesaikan skripsi mereka sehingga otomatis kelulusan mereka tertunda, dalam waktu yang lumayan atau sangat lama. Tetapi sedihnya, tak banyak masyarakat yang mengerti dan menganggap bahwa mahasiswa yang lama lulusnya adalah mahasiswa yang kurang pintar, tidak sungguh-sungguh. Tingkat kepintaran orang memang berbeda-beda dan tingkat kesungguhan masing-masing kita berbeda. Tetapi jangan disamaratakan begitu. Dan untuk rekan-rekan saya yang lulusnya sedikit tertunda, saya tahu betul, mereka mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan dosen kami pun dengan penuh semangat bersungguh-sungguh membimbing mereka agar bisa menjadi sarjana yang membanggakan—walaupun kadang terasa mereka terlalu sangat bersungguh-sungguh sehingga terkadang mereka sepertinya lupa bahwa mahasiswa yang mereka bimbing adalah mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan tingkat S1 bukan S2 bahkan S3 😀

Perihal skripsi, saya kurang puas terhadap karya tulis saya tersebut. Tetapi ada sedikit kebanggaan; itu benar-benar asli karya jumpalitan saya 😀 dan saya kira saya seharusnya bisa lebih jumpalitan lagi. Mental saya waktu itu benar-benar tidak maksimal.

Sedih saat mengetahui ada dosen-dosen yang tidak peduli akan skripsi mahasiswa mereka. Tidak peduli apakah itu hasil kopian atau tidak,apakah murni hasil pemikiran, apakah penelitian benar-benar dilakukan, apakah data-datanya benar-benar aktual.

Sehubungan dengan keaktualan data penelitian mahasiswa, terkadang sang mahasiswa ingin untuk memberikan data aktual hanya saja mereka terbentur birokrasi instansi pemerintah yang sama sekali kurang atau bahkan tidak mendukung, kurang atau bahkan tidak memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian, mendapatkan data yang mereka butuhkan; para pegawai yang bekerjanya setengah hati atau sama sekali zero hati hingga enggan memberikan pelayanan baik terhadap mahasiswa yang akan melakukan penelitian, atau mungkin keberbelitan dimunculkan karena ada kekhawatiran terungkapnya sesuatu yang kurang beres dalam instansi tersebut, jadi saja dipersulit, ditutupi. *edisi negatip thinking :p dan ini berdasarkan pengalaman adik saya saat melakukan pengumpulan data di instansi pemerintahan. Saat itu adik saya melakukan penelitian di beberapa kabupaten di suatu propinsi. Jumlahnya lebih dari sepuluh kabupaten dan hanya sedikit yang memberikan respon positif.

Dosen yang sungguh-sungguh pasti akan mampu mengenal mahasiswanya dengan baik terutama lewat tulisan buah hasil pemikiran mahasiswanya. Akan bisa membedakan mana yang benar-benar hasil pemikiran siswa mana yang tidak. Pengajar dan siswa idealnya tidak hanya sebatas hubungan pemberian kewajiban dan pemenuhan hak, tetapi juga dalam ruang hubungan batin. Idealnya…

Andai saja pengajar, siswa, dan instansi-instansi pemerintah pendukung melakukan peran sejati masing-masing, Alangkah indahnya negeri kita ini. Lulusan-lulusan sekolah akan lebih bermutu dengan pola-pola pikir yang benar-benar terasah dan dengan kesadaran yang tinggi akan tanggung jawab ilmu yang ia dapatkan. Apapun kesibukan yang mereka miliki di luar kegiatan menuntut ilmu—yang hadir karena tuntutan keadaan hidup seperti bekerja sembari sekolah/kuliah—bukan berarti bisa dijadikan alasan untuk tidak maksimal dalam menyelesaikan studi dengan segala tugas-tugas sebagai pembuktian hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

Jadi, siapa harus yang memulai rantai baru, memutus rantai lama yang buruk itu? Instansi pemerintah harus lebih sadar akan peran pengajar dan pelajar, menghargai dan menghormati hak-hak dan kesejahteraan pengajar dan pelajar—dalam hal memberikan kemudahan saat pelajar bersentuhan dengan instansi pemerintah dalam melakukan penelitian. Pengajar harus bersungguh-sungguh dengan sepenuh hati menurunkan ilmu dan membimbing pelajar, karena toh mereka sudah dihargai dan dihormati dengan layak oleh pemerintah (*edisi jika). Dan pelajar, belajarlah dengan benar dan sungguh-sungguh, maka tidak akan ada yang bisa disalahkan untuk hasil yang kurang bagus. Jika ada hasil yang kurang bagus, itu hanya butuh waktu yang agak sedikit panjang dibandingkan pelajar yang lain karena toh rentang waktu masing-masing individu itu berbeda dalam menyadari atau menemukan titik terbaik dalam diri mereka yang bisa membuat mereka mampu memperoleh hasil yang bagus/memuaskan.

Jadi jangan ada pelajar yang patah semangat. Setiap manusia dilahirkan dengan potensi masing-masing. Hanya saja ada yang membutuhkan waktu lebih lama atau perjuangan yang lebih berat dibandingkan dengan yang lain. Dan untuk yang membutuhkan waktu lebih lama, menemukan jalan yang lebih berliku, perjuangan yang lebih berat akan lebih baik daripada yang lebih awal.

Pembelajarannya akan sama saja. Yang lebih awal menemukan potensi terbaik dirinya—katakan saja si A—, ia akan lebih awal mengasah potensi tersebut. Tetapi bagi yang lebih lama menemukan potensi terbaiknya—sebut saja si B—, saat potensi si A sudah terasah dengan baik, si B yang baru saja menemukan potensi terbaiknya akan memiliki daya juang yang lebih yang memberikannya kekuatan untuk melakukan lesatan tinggi sehingga bisa menyamai ketinggian lesatan si A. pada akhirnya, A & B akan kembali berdampingan dengan potensi terbaik masing-masing yang sudah sangat baik terasah dan dengan tingkat kematangan diri yang tinggi.

Nah, untuk yang masih belum menemukan potensi terbaiknya, yang masih memperjuangkan cita-cita karena belum berhasil mencapainya, jangan pernah menyerah. Kerahkan segala kemampuan, fokuslah, tekunlah, tetap teguh sembari meng-arif-kan diri. Jangan patah hanya dengan kata-kata sekitar yang terkadang meremehkan. Buktikan pada mereka, di satu hari yang pasti akan datang, dimana kau bisa perlihatkan kepada mereka bahwa kau juga mampu untuk bersinar.

Jadi intinya, wahai negaraku—a.k.a seluruh penduduknya—bersungguh-sungguhlah dalam melakukan, menghargai & menghormati. Bawalah negeri ini menjadi terpandang dengan kecemerlangan sinarnya. Terdengar klise dan utopis, tetapi kenapa tidak? Jangan sampai negara ini hancur hanya karena keburukan karakter.

Untukmu, dengan hati saya. Untuk mu pelajar, pengajar dan pemerintah. AYO KITA BERUBAH! Untuk pendidikan yang lebih baik dan negeri yang dilihat dunia.

Iklan

Say something?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s